" Selamat Datang di Mr HB Electronic service, mohon maaf jika komentar anda kurang mendapat tanggapan, karena sesuatu dan lain hal, kami tidak bisa online 24 jam. Terima kasih atas kunjungan nya " *** Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’) *** Manusia pada hakikatnya mati kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pada hakikatnya tidur kecuali yang mau mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu kecuali orang yang ikhlas ( Imam al Gazali) *** Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud) *** Saling berlaku jujur lah dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya dari pada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im) *** Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi) ***

Sunday, February 24, 2013

Bedah STAVOL MATSUNAGA

AC Automatic Voltage Regulator atau yang lebih dikenal dengan nama STAVOL, adalah sebuah peranti yang wajib dimiliki untuk mengatasi Tegangan listrik yang kurang stabil.

Dari sekian banyak Stavol yang beredar di pasaran, Merek Matsunaga lah yang paling banyak digunakan. Di samping  harganya yang cukup ter jangkau, kualitas nya pun tidak meragukan ( Penilaian Penulis ).


Dengan alasan inilah penulis tertarik untuk mengobrak-abrik isi dari benda yang berwarna Merah Putih ini. Dan inilah hasilnya.

1. Skema Tarfo Model Servo Motor Control ( SMC ) 9 Volt.






2. Skema Trafo Model Servo Motor Control ( SMC ) 12Volt.




3. Skema PCB Servo Motor Control  ( SMC ) 9 Volt.







4. Skema PCB Servo Motor Control ( SMC ) 12 Volt.








5. Perkabelan Trafo Model Servo Motor Control 9 Volt.





6. Perkabelan Trafo Servo Motor Control 12 Volt.


 




7. Posisi A, K1, dan K2.







8. Posisi  B   ( 220V OUT ).







9. Perbandingan ukuran Trafo model lama  ( SMC  9 Volt ) dengan model baru ( SMC 12 Volt ).





10. Posisi Motor pada Satvol model Lama.





11. Posisi Motor pada Stavol model Baru.




Cara menentukan Pin + ( Positif ) dan - ( Negatif ) pada Motor.

Lepaskan semua kabel yang menempel pada papan SMC. Beri tegangan DC antara 6 volt s/d 9 Volt  pada kabel motor. Perhatikan arah putaran A, pastikan arah nya ke kanan. Kalau arah nya terbalik, tukar polaritas tegangan pada kabel. Jika sudah yakin A berputar ke arah kanan, beri tanda pada kabel yang mendapat polaritas tegangan positif dan kabel yang mendapat tegangan negatif.

Umumnya Trafo Stavol Matsunaga melakukan penguatan tegangan ( Step Up ) ketika A berputar ke arah kiri dan berputar ke arah  kanan saat menurunkan tegangan ( Step Down ). Tapi pada pada tipe tertentu ada juga Trafo Stavol Matsunaga melakukan Step Up ke arah kanan dan Step Down ke arah kiri. Untuk itu dalam menentukan pin polaritas motor, pastikan A berputar ke arah kiri.

Cara menentukan Trafo Stavol Step Up  ke arah kiri atau ke arah kanan.

Pastikan semua kabel yang menempel pada papan SMC, sudah dilepas. Pasang steker Stavol pada colokan listrik, dan hidupkan Stavol. Dengan menggunakan sarung tangan karet, putar secara manual A ke kiri dan ke kanan sambil memperhatikan posisi jarum Volt meter Stavol. Jika jarum Volt meter menunjukkan adanya peningkatan tegangan ketika A diputar ke arah kanan , berarti Step up Trafo ke arah kanan. Sebaliknya kalau saat A diputar ke arah kiri, berarti Step Up Trafo Ke arah kiri.

Menentukan penempatan saklar K1 dan K2.

Saklar K1 dan K2 adalah pembatas gerakan A, dengan cara memutuskan sambungan  G atau D  ke W, ketika A menyentuh saklar K1 atau saklar K2.

Cara praktis menentukan penempatan Saklar K1 dan K2 adalah sebagai berikut :
  1. Pastikan semua kebel terpasang dengan baik pada papan SMC.
  2. Pasang Steker Stavol pada colokan listrik dan hidupkan Stavol.
  3. Saat A bergerak, tekan saklar K1 atau saklar K2,
  4. Jika A berhenti  bergerak ke arah saklar K1 ketika saklar K1 ditekan, berarti pemasangan nya sudah benar. Sebaliknya, jika A berhenti bergerak ke arah saklar K1 ketika saklar K2 yang ditekan. Berarti pemasangan nya terbalik, tukar kabel G dan Kabel D.

Fungsi Relay.

Dalam keadaan On, Stavol  selalu melakukan penyesuaian tegangan output secara otomatis se irama dengan perubahan tegangan listrik yang masuk. Jika tegangan yang masuk kurang dari 220 Volt, maka Stavol melakukan penguatan ( Step Up ). Demikian pula sebaliknya, jika tegangan yang masuk lebih dari 220 Volt, maka Stavol melakukan pengurangan ( Step Down ).

Pada saat Stavol dimatikan dalam kondisi tegangan listrik kurang dari 220 Volt, maka Stavol siap digunakan pada pemakaian berikutnya dalam posisi Step Up. Jika pada saat Stavol di On kan kembali,  tegangan listrik dalam kondisi tinggi ( lebih dari 220 Volt ). Maka pada Outlet Stavol akan keluar tegangan yang sangat tinggi. Meski pun kejadian tersebut hanya sesaat ( karena Stavol akan segera melakukan penyesuaian ) tapi cukup membahayakan peranti elektronik yang tersambung ke Stavol.

Untuk itulah Stavol Matsunaga diberi rangkaian pelindung tegangan output,  yang terdiri dari sebuah Relay, dan sejumlah komponen yang berfungsi sebagai perata arus ( Adaptor ).




Pada saat Stavol dalam kondisi On, rangkaian ini bertugas menyumbangkan Motor dengan rangkaian pengendali otomatis. Dan ketika Stavol dimatikan, sambungan tersebut diputuskan dan motor disambung kan ke rangkaian adptor. Karena pada rangkaian adaptor terdapat sebuah Elco yang  terus-menerus diberi muatan dengan tanpa beban sedikit pun, maka saat tersambung ke motor, Elco tersebut tersebut masih memiliki tenaga yang cukup kuat  untuk memutar  A dan memastikan Stavol siap digunakan dalam posisi Step Down,  pada penggunaan berikutnya.


Kerusakan Stavol dan cara memperbaikinya.

Trafo Stavol bergetar saat dihidupkan. 

  1. Tegangan listrik yang masuk lebih tinggi Voltase nya dari kemampuan Stavol. Periksa saklar penyesuai Voltase yang ada di belakang Stavol, dan pastikan batas tertinggi Voltase yang direkomendasi kan sudah berada di atas Voltase listrik yang akan digunakan.
  2. Saklar penyesuai Voltase pernah dibuka dan salah dalam pemasangan nya. Cek perkabelannya, dan benahi dengan mengikuti skema trafo yang ada di atas.
  3. Trafo Stavol korslet. Cek kondisi fisik kawat emailnya, bila sudah berubah warna menjadi kehitam-hitaman, kemungkinan besar Trafo tersebut sudah hangus dan tak dapat digunakan lagi.
 
 A  hanya bisa berputar ke satu arah saja.

  1. Motor Rusak, Cek dengan memberinya tegangan DC antara 6V s/d 9V.  Bolak - balik polaritas tegangan yang diberikan, dan pastikan motor dapat berputar ke kanan kiri dengan lancar. Bila motor hanya bisa berputar ke satu arah saja, itu berarti motor sudah rusak ganti dengan yang baru.
  2. Ada Transistor pada rangkaian SMC yang jebol, Uji satu persatu dengan menggunakan Ohm Meter. Ada baiknya sebelum di uji, cabut terlebih dahulu Transistor tersebut  dari papan SMC, agar hasil pengujian nya meyakinkan.
  3. Saklar K1 atau K2 rusak. K1 dan K2 adalah Saklar tipe Push-Button (NC)  yang berfungsi memutuskan sambungan ketika ditekan, dan menghubungkan sambungan saat tidak ditekan. Cek kondisi nya dengan menggunakan Ohm meter X1. 


Demikian, semoga ada manfaatnya.


Wednesday, April 20, 2011

Mengatasi " Tidak Ada Sinyal " Pada Antena Parabola Digital FTA ( Bagian ke-2 )

Pada Artikel sebelumnya ( Mengatasi " Tidak Ada Sinyal " Pada Antena Parabola Digital FTA ), kita sudah membahas tentang kasus Antena Parabola Digital yang tidak dapat menerima sinyal Televisi dan Radio dari Satelit.

Pada artikel bagian ke dua ini, kita akan melanjutkan pembahasan tentang hal tersebut. namun indikasi yang muncul sedikit berbeda dengan kasus sebelumnya.


Sebenarnya Indikasi yang ditampilkan tetap sama, yaitu munculnya pesan " Tidak ada Sinyal " pada layar Televisi, yang berbeda adalah Informasi yang muncul ketika tombol Info  pada Remot Kontrol ditekan, seperti yang terlihat pada Gambar 01 di bawah ini :


       Gambar. 01     

Di sini terlihat  Intensitas sinyal sudah menunjukkan Persentase tertentu, sedangkan Kualitas sinyal tetap terbaca 0 persen dengan status sinyal terbuka. Informasi yang seperti sebenarnya sudah cukup menggembirakan, namun tetap saja semua saluran Televisi dan Radio pada daftar siaran tidak dapat di nikmati, karena pesan " Tidak ada Sinyal " akan kembali muncul pada layar Televisi ketika Informasi tersebut di tutup.

Berikut ini faktor-faktor yang menjadi penyebab timbulnya permasalahan tersebut, beserta cara memperbaikinya.

Pergeseran posisi Antena.

Antena Parabola Digital sebenarnya sangat peka dengan perubahan posisi, bergeser beberapa milimeter saja maka Kualitas sinyal nya akan menurun, bahkan bila pergeseran tersebut sudah mencapai ukuran sentimeter Kualitas sinyal bisa turun sampai 0 persen.

Terpaan angin kencang, dan Erosi di sekitar tiang antena, adalah Faktor utama yang menjadi penyebab pergeseran posisi tersebut terjadi. Seharusnya faktor-faktor tersebut bisa di antisipasi sejak awal, yaitu dengan cara memilih lokasi yang aman.

Tapi bagaimana kalau kejadiannya sudah begini, apa perlu lokasi Antena tersebut dipindahkan ? Sebaiknya memang begitu keputusan yang harus diambil, tapi tidak ada salahnya kalau kita mengusahakan perbaikannya terlebih dahulu.

Untuk melakukan perbaikan, hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan tiang Antena sudah berdiri dengan tegak lurus, yaitu dengan cara menempelkan Waterpas pada tiang Antena tersebut. Setelah yakin tiang Antena sudah tegak lurus, lakukan penimbunan pada pangkal tiang untuk menjaga posisi nya agar tidak berubah. Supaya posisi tiang terkunci secara permanen, sebaiknya dipasang siku penyangga seperti yang terlihat pada Gambar. 02 di bawah ini.

    Gambar. 02     

Bila tiang Antena sudah berdiri dengan tegak lurus, tetapi kualitas sinyal belum juga mengalami peningkatan, lakukan penyetelan ulang posisi Antena. Sebelumnya, atur terlebih dahulu posisi Televisi dan Receiver sedemikian rupa, sehingga dapat akses dengan mudah pada saat melakukan penyetelan Antena tersebut, dan bila memungkinkan sebaiknya Televisi dan Receiver ditempatkan di luar ruangan tidak terlalu jauh dari lokasi Antena.

     Gambar . 03     

Kalau posisi Televisi dan Receiver sudah mantap, pilih salah satu kanal pada daftar siaran dan tampilkan Informasi sinyal pada layar televisi dengan cara menekan tombol info pada remot kontrol. Kemudian Longgar kan Mur M12 Nomor. 40 dan Nomor. 42, yang menjepit dudu kan baut pengatur kemiringan Timur dan Barat ( Nomor 41 ), longgar kan kedua mur tersebut saling menjauhi, sehingga keduanya mencapai jarak  +/- 5 cm.

     Gambar . 04     

Gerakkan Solid Dish ke atas dan ke bawah, sambil mengamati perubahan kualitas sinyal yang pada layar Televisi. Bila terjadi peningkatan kualitas sinyal pada kemiringan tertentu, per tahankan posisi tersebut pada persentase sinyal yang tertinggi, kemudian jepit kembali dudu kan setelan kemiringan Timur dan Barat ( Nomor 41 ) dengan Mur 40 dan Mur 42.

Kalau sudah selesai, sekarang coba kontrol  semua kanal Televisi yang ada pada daftar siaran Televisi satu persatu dan pastikan semunya sudah dalam status terkunci. Jika ada kanal televisi yang masih belum bagus kualitas sinyal nya, lakukan kembali penyetelan antena sampai semua kanal terkunci status sinyal nya.

     Gambar . 05     

Kerusakan Solid Dish

Solid Dish sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak mudah mengalami kerusakan, tetapi perlakuan yang ekstrem pada saat pemindahan antena dan faktor usia tetap saja dapat mengakibatkan kerusakan Solid Dish tersebut.

Umumnya, kerusakan pada Solid Dish terjadi pada pertemuan tiap sisi lembaran nya. Karena pertemuan sisi lembaran ini sekaligus berfungsi sebagai kerangka Solid Dish, maka perubahan bentuk pada bagian tersebut akan mempengaruhi bentuk Solid Dish secara keseluruhan. 

     Gambar . 06      


Bagian pertemuan sisi Solid Dish yang mengalami perubahan bentuk biasanya terlihat  bergelombang  di beberapa bagian seperti yang di tunjuk oleh panah merah dalam lingkaran putih pada gambar. 07 di bawah ini.


     Gambar . 07      

Kecil memang perubahan bentuk pada sambungan sisi tersebut, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menggeser titik fokus Solid Dish yang seharusnya tepat mengarah pada LNB. Agar lebih meyakinkan kalau hal tersebutlah yang menyebabkan persentase kualitas sinyal menjadi  0 persen, lakukan pengujian berikut ini, tapi sebelumnya lakukan penempatan Televisi dan Receiver seperti pada perbaikan  pergeseran posisi antena. Selanjutnya perhatikan Gambar. 08 di bawah ini.

     Gambar . 08     

Begini cara mengujinya. Pertama tahan bagian yang ditunjuk oleh panah a, kemudian tarik bagian-bagian yang ditunjuk oleh panah b secara bergantian dengan perlahan ke arah bawah. Perhatikan persentase kualitas sinyal, bila terjadi peningkatan pada saat salah satu bagian b ditarik, ini membuktikan kalau perubahan bentuk pada sambungan sisi Solid dish  tersebut memang bersamalah.

Untuk melakukan perbaikan, longgar kan semua mur dan baut yang terdapat pada  sambungan sisi Solid Dish yang mengalami perubahan bentuk tersebut. Dengan sebuah palu, pukul bagian  sambungan sisi  Solid Dish yang bergelombang sampai rata. setelah itu kencang kan kembali semua mur dan baut yang sudah di longgar kan tadi.
 
Kerusakan Mounting

Selain menjadi Pondasi Solid Dish, Mounting juga berfungsi sebagai pengatur arah kemiringan antena ( Baik itu arah kemiringan Timur-Barat atau pun arah kemiringan Utara-Selatan ).

     Gambar . 09     


Kerusakan pada Mounting umumnya terjadi karena faktor usia, akibat sudah terlalu lama terkena panas dan hujan, maka di beberapa bagian Mounting menjadi keropos dan patah. Bagian yang paling fatal akibatnya apabila mengalami kerusakan adalah bagian Mounting yang berfungsi sebagai poros ( Penyangga Utama ).

     Gambar . 10     


Karena sangat berperan dalam pengaturan kemiringan Antena, Penyangga Utama Mounting yang keropos dan patah tersebut dapat mengganggu stabilitas penerimaan sinyal dari satelit. Akibatnya, Persentase Kualitas sinyal turun naik meski pun Solid Dish tidak digerakkan.

Ada banyak cara yang dapat kita tempuh dalam rangka melakukan perbaikan pada Penyangga Utama Mounting tersebut, tapi yang perlu mendapat perhatian di sini adalah biaya yang harus dikeluarkan. Jangan sampai biaya yang dikeluarkan terlalu banyak, sehingga membuat kita menyesal. Perlu diingat bahwa bagian yang kita perbaiki adalah benda yang sudah tua dan keropos.

Salah satu cara sederhana dengan ongkos minim yang pernah penulis lakukan, adalah seperti yang terlihat pada Gambar. 11 berikut ini.


     Gambar . 11     

Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan :
  1. Lembaran kayu Ulin atau kayu apa aja yang cukup kuat dan tahan terhadap perubahan cuaca, panjang dan lebarnya di sesuaikan dengan panjang dan lebar Penyangga Utama Mounting, ketebalan nya juga  perlu disesuaikan agar ujung Solid Dish tidak tersangkut pada lembaran pada saat digerakkan.
  2. Pengikat dari bahan karet yang dipotong memanjang, bahan yang paling cocok digunakan adalah ban dalam Mobil bekas, karena selain kuat juga mudah didapatkan.
 Cara Memasangnya :
  1. Tempel kan Lembaran kayu pada bagian atas Penyangga Utama Mounting.
  2. Ikat kedua ujung lembaran kayu dengan menggunakan bahan pengikat karet yang sudah kita siapkan tadi.
  3. Agar memudahkan pengikatan, sebaiknya Antena di jungkir balik lebih dahulu.

Faktor - faktor lain yang perlu mendapat perhatian
  1. Baut dan Mur.  Periksa semua baut dan mur yang terpasang pada semua bagian antena, baik yang terpasang pada Solid Dish, atau pun yang terpasang pada Mounting. Karena mur dan baut yang longgar dapat juga mempangaruhi stabilitas penerimaan sinyal dari satelit.
  2. Faktor lingkungan, yang perlu mendapat perhatian di sini adalah pertumbuhan pepohonan dan perkembangan bangunan di sekitar lokasi antena. Bisa jadi pepohonan yang dahulunya masih kecil pada saat antena dipasang , sekarang sudah membesar dan menghalangi penerimaan sinyal dari satelit. Demikian pula dengan perkembangan bangunan-bangunan yang berdiri di sekitar lokasi antena tersebut.
  3. Benda-benda yang terjebak di dalam  solid dish. Dedaunan adalah benda yang paling sering terjebak, permukaan Solid Dish yang berbentuk parabola sering sekali menjadi tempat berkumpul nya dedaunan yang beterbangan. Awalnya mungkin tidak mengganggu karena jumlahnya yang masih sedikit, tapi  bila jumlahnya sudah bertambah banyak, tentu akan berpengaruh pada peroses penerimaan sinyal.

 Demikian, semoga dapat membantu.
Terima kasih atas kunjungan nya