" Selamat Datang di Mr HB Electronic service, mohon maaf jika komentar anda kurang mendapat tanggapan, karena sesuatu dan lain hal, kami tidak bisa online 24 jam. Terima kasih atas kunjungan nya " *** Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii’) *** Manusia pada hakikatnya mati kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pada hakikatnya tidur kecuali yang mau mengamalkan ilmunya. Dan orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu kecuali orang yang ikhlas ( Imam al Gazali) *** Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud) *** Saling berlaku jujur lah dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya dari pada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na’im) *** Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi) ***

Friday, April 19, 2013

METODE CEPAT MEMBACA NILAI RESISTOR

Dalam dunia elektronik, membaca nilai pada Resistor merupakan pelajaran dasar yang wajib dimiliki. Bukan hanya sekadar membaca, tapi kecepatan membaca juga mesti dikuasai. Berdasarkan pengalaman penulis, ada berbagai macam metode yang bisa dilakukan. Tapi sebelumnya mari kita bahas terlebih dahulu sistem penulisan nilai pada Resistor.

Ada 2 cara penulisan nilai Resistor :
  1. Sistem kode warna.
  2. Sistem  kode angka.

1. Sistem kode warna

Sistem kode warna berupa pita-pita warna yang mengelilingi badan Resistor. Kode warna Resistor ini pertama kali dikembangkan oleh perkumpulan pabrik-pabrik radio Eropa dan Amerika RMA (Radio Manufacturers Association) yang didirikan pada awal tahun 1920-an. Pada tahun 1957, kelompok ini berganti nama menjadi Electronic Industries Alliance (EIA) dan menerbitkan kode tersebut sebagai standar EIA-RS-279.

Sistem kode warna ada 3, yaitu :
  1. Sistem kode warna 4 pita
  2. Sistem kode warna 5 pita.
  3. Sistem kode warna 6 pita.

1.1 Sistem kode warna 4 pita.



Pita ke-1 dan Pita ke-2 adalah dua angka nilai tahanan.
Pita ke-3 adalah Per-kalian Desimal ( jumlah nol di belakang angka ke-2 )
Pita ke-4 Nilai Toleransi.


TABEL KODE WARNA RESISTOR 4 PITA

Contoh 1 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Perak, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 0,56 Ω, dengan Toleransi 5%.

Contoh 2 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Emas, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 5,6 Ω, dengan toleransi 5%.

Contoh 3 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Hitam, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 56 Ω, dengan Toleransi 5%.

Contoh 4 :
Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Coklat, Pita ke-4 = Emas.
Nilainya adalah 560 Ω, dengan Toleransi 5%.


1.2 Sistem kode warna 5 pita.




Pita ke-1, Pita ke-2 dan Pita ke-3 adalah tiga angka nilai tahanan.
Pita ke-4 adalah Per-kalian Desimal (jumlah nol di belakang angka ke-3).
Pita ke -5  Nilai Toleransi.


TABEL KODE WARNA 5 PITA



Contoh 1 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Hitam, Pita ke-3 = Hitam, Pita ke-4 = Perak. Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 5 Ω, dengan Toleransi 1%.

Contoh 2 :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Merah, Pita ke-4 = Emas. Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 56,2 Ω, dengan Toleransi 1%.

Contoh 3 :
Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Merah, Pita ke-4 = Hitam, Pita ke-5 = Coklat.
Nilainya adalah 562 Ω, dengan Toleransi 1%.


1.3 Sistem kode warna 6 pita. 




Pita ke-1, Pita ke-2, dan Pita ke-3 tiga angka nilai tahanan.
Pita ke-4 adalah Per-kalian Desimal (jumlah nol di belakang angka ke-3).
Pita ke-5 adalah Nilai Toleransi.
Pita ke-6  Koefisien suhu.


 TABEL KODE WARNA 5 PITA



Contoh  :
Pita ke-1 = Hijau, Pita ke-2 = Biru, Pita ke-3 = Hijau, Pita ke-4 = Emas. Pita ke-5 = Coklat.
Pita ke-6 = Coklat.
Nilainya adalah 56,6 Ω, Toleransi 1%, Koefisien suhu 100 ppm / ºC

2.  Sistem kode angka.

Sistem kode angka digunakan pada Resistor SMD ( Surface-mount Device ), Resistor pasang permukaan yang ukurannya sangat kecil.



Untuk cara membacanya perhatikan gambar berikut :




Resistor SMD dengan toleransi standar atau toleransi yang cukup longgar ( 5% misalnya ) menggunakan kode angka 3 digit. Dua angka pertama adalah dua angka pertama nilai tahanan Resistor, sedangkan angka ketiga adalah pengali ( jumlah nol ). 
Contoh :

102  =   10 X 100 Ω  =  1.000 Ω ( 1 Kilo Ω ) atau 10 ditambah dua nol di belakangnya.
222  =   22 X 100 Ω  =  2.200 Ω ( 2,2 Kilo Ω ) atau 22 ditambah dua nol di belakangnya.
103  =   10 X 1000 Ω = 10.000 Ω ( 10 Kilo Ω ) atau 10 ditambah tiga nol di belakangnya.
223  =   22 X 1000 Ω = 22.000 Ω ( 22 Kilo Ω ) atau 22 ditambah tiga nol di belakangnya.

Untuk Resistor SMD yang nilai hambatan nya di bawah 100 Ω ditulis 820, 680, 5600 dan seterusnya.
Contoh :

100  = 10 X 1 = 10 Ω.
560  = 56 X 1 = 56 Ω.
820  = 82 X 1 = 82 Ω.

Beberapa produsen ada juga yang menulis langsung nilai hambatan Resistor SMD tanpa menggunakan kode, misalnya 10, 56, 82. katanya sih, untuk mencegah kebingungan.

Selanjutnya, untuk Resistor SMD dengan nilai hambatan di bawah 10 Ω, menggunakan R untuk  menunjukkan titik desimal nya.
Contoh :

1R5 = 1,5 Ω.
0R5 = 0,5 Ω.
0R05 = 0,05 Ω.

Resistor persisi yang mempunyai nilai toleransi ketat, menggunakan  Kode empat digit. Tiga kode pertama adalah nilai tahanan, dan kode ke empat adalah pengali atau jumlah nol.
Contoh :

2001 = 200 X 10 : 2000 Ω ( 2 Kilo Ω ).
4701 = 470 X 10 : 4700 Ω  ( 4,7 Kilo Ω ).
1200 = 120 X 1   : 120 Ω.

Adapun Resistor SMD yang di tandai dengan kode 0, 000, atau 0000 adalah Resistor dengan nilai hambatan 0 Ω. Karena tidak memiliki nilai  hambatan, maka Resistor seperti ini sering digunakan sebagai Jumper. tujuannya agar lebih mudah dipasang pada PCB dengan menggunakan mesin solder SMD.


Ok. Kita Kembali pada pokok pembahasan kita.

Untuk bisa membaca nilai tahanan Resistor dengan cepat, ada beberapa 3 hal yang mesti kita lakukan, yaitu :

  1. Menghafal urutan warna pada tabel sistem kode warna.
  2. Mengenal Ciri khas kode warna Resistor yang memiliki nilai tahanan satuan, puluhan, ribuan, dan seterusnya.
  3. Mengetahui Standar nilai Resistor yang diterbitkan oleh EIA.

MENGHAFAL URUTAN KODE WARNA RESISTOR.

Menghafal ada cara untuk melatih kemampuan ingatan buatan. Pada otak manusia ada 2 jenis ingatan, ingatan alami dan ingatan buatan. Ingatan alami adalah bakat yang sudah ada sejak kita lahir, dan digunakan kan dalam kehidupan sehari-hari secara otomatis tanpa perlu berpikir. Sedangkan ingatan buatan adalah sebuah kemampuan daya ingat yang di bangun dengan cara belajar dan dilatih dengan berbagai macam metode.
Salah satu metode yang paling efektif untuk melatih daya ingat buatan adalah Strategi Mnemonik, yaitu teknik mengingat sesuatu dengan cara menghubungkan antara bentuk/rumusan yang mudah diingat dengan data yang ingin diingat. Hal ini berdasarkan prinsip bahwa ingatan manusia akan lebih mudah mengingat informasi yang unik dan menarik, ketimbang data-data yang rumit dan asing.

Dari sekian banyak strategi Mnemonik yang ada, beberapa diantaranya dapat kita manfaatkan untuk menghafal urutan warna kode Resistor.

1. Rumus Jembatan Keledai.

Rumus Jembatan keledai umumnya berupa sebuah kata atau suku kata yang diambil dari susunan kata yang ingin di hafal, kemudian dibentuk menjadi sebuah kalimat yang unik atau menarik.
Sebenarnya kurang jelas, dari mana asal mula Istilah jembatan keledai ini. tapi kemungkinan besar berasal dari bahasa Belanda Ezelsbruggetje yang berarti titian keledai atau dari bahasa Latin pons asinorum yang artinya jembatan keledai.

Berikut adalah bentuk dari rumus Jembatan Keledai yang akan kita gunakan untuk menghafal urutan kode warna Resistor.



Rumus ini membentuk sebuah kalimat HI CO ME O KU  HI BI VI A PU, yang diambil dari singkatan nama masing-masing warna yang terdapat pada sistem kode warna Resistor.

HI = Hitam, ME = Merah, O = Oranye, KU = Kuning, HI yang kedua = Hijau, BI = Biru, VI = Violet atau Ungu, A = Abu-abu, dan PU = Putih.

Cara menggunakan rumus ini cukup mudah, kita hanya perlu menghafal kalimatnya, serta  membayangkan arti dan angka yang ada di bawah setiap kata, dalam kalimat tersebut.


2. Menggunakan Gambar angka berwarna.

Dengan cara ini, kita akan melatih ingatan kita untuk menghafal urutan kode warna menggunakan gambar angka berwarna, seperti  di bawah ini :

Cara menggunakan metode ini adalah, menyebutkan warna angka yang ada dalam kotak. Satu persatu secara berulang-ulang. Sekali lagi, yang disebutkan warna angkanya, bukan angkanya.

3. Menggunakan Rumus Pengelompokan warna. 

Metode ini terbilang cukup rumit, karena kita akan mempelajari pengelompokan warna terlebih dahulu, kemudian menghubungkannya dengan urutan warna kode resistor.

Pengelompokan warna pertama kali dikemukakan pada tahun 1831, namanya Teori Brewster. Teori ini menyederhanakan warna yang ada di alam dengan membaginya menjadi 4 kelompok besar, yaitu :
  1. Warna Primer. Warna dasar yang bukan merupakan hasil pencampuran dari warna-warna lain, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru. 
  2. Warna Sekunder. Hasil pencampuran dari  2 warna Primer. Ada berapa macam warna sekunder, dan yang ada hubungannya dengan kode warna Resistor ada 3 warna yaitu : Oranye ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Merah ), Hijau ( Hasil pencampuran dari warna Kuning dengan Biru ) , dan Ungu ( Hasil pencampuran dari warna Merah dengan Biru ). 
  3. Warna Tersier. Hasil pencampuran salah satu warna Primer dengan salah satu warna Sekunder atau pencampuran dari tiga warna Primer. Warna dari kelompok ini juga bayak, tapi yang termasuk dalam sistem kode warna Resistor hanya ada satu, yaitu warna Coklat ( pencampuran dari warna Merah, Kuning, dan Biru ).
  4. Warna Netral. Warna penyeimbang, yaitu warna Hitam dan Putih dan hasil pencampuran dari keduanya. Warna Netral sering juga disebut Warna yang tidak berwarna.
Dan satu lagi kelompok warna  yang akan kita gunakan dalam rumus ini, tapi tidak termasuk dalam teori Brewster, yaitu kelompok warna metalik. Kelompok warna metalik terdiri dari Warna Emas, Perak dan  hasil pencampuran 2 warna tersebut dengan warna-warna dari kelompok lainnya.

Jadi berdasarkan kelompok-kelompok warna di atas, dalam rumus ini, kita akan membagi kode warna Resistor menjadi 5 Grup. Seperti berikut ini :

Grup 1 dari kelompok warna primer, yaitu : Warna Merah, Kuning, dan Biru.
Grup 2 dari kelompok warna sekunder, yaitu : Warna Oranye, Hijau, dan Ungu.
Grup 3 dari kelompok warna Tersier, yaitu : warna Coklat.
Grup 4 dari kelompok warna, Netral yaitu : Warna Hitam, putih, dan Abu-abu.
Grup 5 dari kelompok warna Metalik, yaitu : Warna Emas dan Perak.

Dengan pembagian Grup seperti ini, kita bisa lebih mudah menghafal kode warna Resistor. Karena setiap grup mempunyai ciri khas.

Grup1 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Genap, kecuali angka 8.
Grup2 terdiri dari kode warna resistor yang memiliki angka Ganjil, kecuali angka 9.
Grup3 kode warna resistor yang memiliki angka tunggal, yaitu Coklat ( angka 1 ).
Grup4 terdiri dari kode warna Resistor urutan awal ( warna Hitam ) dan 2 kode warna Resistor urutan terakhir ( warna Abu-abu dan Putih ).
Grup5 hanya untuk kode warna toleransi resistor, dan kode warna per kalian desimal yang memiliki angka di bawah nol ( nol koma dan nol koma nol ).

Cara menghafal urutan warna dari masing-masing Grup :

Grup 1. Membayangkan sebuah jarum yang dibakar di atas api lilin. Warna Merah adalah warna ujung jarum yang membara, warna Kuning adalah warna api lilin bagian atas, dan warna Biru warna api lilin bagian bawah. Jadi urutan warnanya dimulai dari atas ke bawah.

Grup 2. Membayangkan sedang mencampur warna-warna yang ada pada Grup1 secara berurutan. Urutan pertama, hasil dari pencampuran warna urutan pertama dan kedua warna Grup1. Urutan kedua, hasil dari pencampuran warna urutan kedua dan ketiga warna Grup1.  warna ketiga, hasil dari pencampuran warna ketiga dan pertama warna grup1.
Rumus nya, 1 Grup2 = 1 + 2 Grup1,  2 Grup2 = 2 + 3 Grup 1,  3 Grup2 = 3 + 1 Grup1.

Grup 3. Tidak perlu membayangkan apa-apa, karena hanya ada satu warna. Yang perlu di ingat adalah Grup ini memiliki jumlah anggota sama dengan angka kode warnanya, yaitu 1.

Grup 4. Mengingat pepatah yang mengatakan  Habis Gelap Terbitlah Terang. Maka urutannya dimulai dari warna yang paling gelap, ke warna yang paling terang.

Grup 5. Membayangkan perbandingan harga benda yang memiliki warna yang sama dengan anggota Grup ini. Urutannya dimulai dari harga yang ter tinggi.

    CIRI KHAS KODE WARNA RESISTOR DENGAN NILAI TAHANAN TERTENTU.

    Ciri khas kode warna Per kalian desimal atau jumlah nol.

    Untuk Resistor dengan kode warna 4 Pita, ciri khasnya ada pada Pita ke tiga.
    • Warna Emas untuk resistor dengan nilai tahanan Satuan Ω ( Nilai 1 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Ω ).
    • Warna Hitam untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ω  ( Nilai 10 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Ω ).
    • Warna Coklat untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ω ( Nilai 100 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1000 Ω ).
    • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Ribuan Ω / Kilo Ω ( Nilai 1 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Kilo Ω ).
    • Warna Oranye untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ribu Ω / Puluhan Kilo Ω ( Nilai 10 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Kilo Ω ).
    • Warna Kuning untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ribu Ω / Ratusan Kilo Ω ( Nilai 100 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Mega Ω ).
    • Warna Hijau untuk resistor dengan nilai tahanan Jutaan Ω / Mega Ω ( Nilai 1 Mega Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Mega Ω ).
    •  Warna Biru untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Juta Ω / Puluhan Mega Ω.
    Untuk Resistor  dengan kode warna 5 dan 6 Pita, ciri khasnya ada pada Pita ke empat.
    • Warna Perak untuk resistor dengan nilai tahanan Satuan Ω ( Nilai 1 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Ω ).
    • Warna Emas untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ω ( Nilai10 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Ω ).
    • Warna Hitam untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ω ( Nilai 100 Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Kilo Ω ).
    • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Ribuan Ω / Kilo Ω ( Nilai1 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 10 Kilo Ω ).
    • Warna Merah untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Ribu Ω / Puluhan Kilo Ω ( Nilai 10 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 100 Kilo Ω ).
    • Warna Oranye untuk resistor dengan nilai tahanan Ratusan Ribu Ω / Ratusan Kilo Ω ( Nilai 100 Kilo Ω sampai dengan nilai yang mendekati 1 Mega Ω ).
    • Warna Kuning untuk resistor dengan nilai tahanan Jutaan Ω / Mega Ω ( Nilai 1 Mega Ω sampai nilai yang mendekati 10 mega Ω ).
    • Warna Hijau untuk resistor dengan nilai tahanan Puluhan Juta Ω / Puluhan Mega Ω.

      Untuk resistor dengan nilai tahanan di bawah 1 Ω ( Nol Koma dan Nol Koma Nol )

      Resistor dengan kode warna 4 Pita.
      • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma, ciri khasnya ada  pita ke tiga yang selalu berwarna Perak.
      • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma Nol, ciri khasnya ada pada pita pertama dan pita ke tiga. pita pertama selalu berwarna hitam dan pita ke tiga selalu berwarna Perak.
      Resistor dengan kode warna 5 dan 6 Pita.
      • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma, ciri khasnya ada pada pita pertama dan pita ke empat. Pita pertama selalu berwarna hitam dan pita ke empat selalu berwarna perak.
      • Resistor dengan nilai tahanan Nol Koma Nol, ciri khasnya ada pada pita pertama, kedua dan ke empat. Pita pertama selalu berwarna Hitam, pita kedua juga selalu berwarna Hitam dan pita ke empat selalu berwarna Perak.

      NILAI STANDAR RESISTOR.

      Nilai standar resistor diterbitkan oleh EIA ( Electronic Industries Alliance ), nilai standar ini ditentukan berdasarkan nilai toleransi. Ada banyak sekali nilai standar yang di terbitkan oleh EIA tersebut, namun kita batasi pembahasan kita dengan nilai standar yang umum beredar di pasaran, khususnya pasar Indonesia.

      EIA STANDAR E12.

      E12 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor-resistor yang memiliki nilai toleransi 10 %.

      Tabel  Resistor Standar E12

      Nol Koma Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
      0,1 1 10 100
      0,12 1,2 12 120
      0,15 1,5 15 150
      0,18 1,8 18 180
      0,22 2,2 22 220
      0,27 2,7 27 270
      0,33 3,3 33 330
      0,39 3,9 39 390
      0,47 4,7 47 470
      0,56 5,6 56 560
      0,68 6,8 68 680
      0,82 8,2 82 820

      Satuan Kilo Ω
      ( Ribuan Ω )
      Puluhan Kilo Ω
      ( Puluhan Ribu Ω )
      Ratusan Kilo Ω
      ( Ratusan Ribu Ω )
      Satuan Mega Ω
      ( Jutaan Ω )
      1 10 100 1
      1,2 12 120 1,2
      1,5 15 150 1,5
      1,8 18 180 1,8
      2,2 22 220 2,2
      2,7 27 270 2,7
      3,3 33 330 3,3
      3,9 39 390 3,9
      4,7 47 470 4,7
      5,6 56 560 5,6
      6,8 68 680 6,8
      8,2 82 820 8,2


      EIA STANDAR E24

      E24 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor yang memiliki nilai toleransi 5 %.

      Tabel  Resistor Standar E24
      Nol Koma Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
      0,1 1 10 100
      0.11 1,1 11 110
      0,12 1,2 12 120
      0,13 1,3 13 130
      0,15 1,5 15 150
      0,16 1,6 16 160
      0,18 1,8 18 180
      0,20 2 20 200
      0,22 2,2 22 220
      0,24 2,4 24 240
      0,27 2,7 27 270
      0,30 3 30 300
      0,33 3,3 33 330
      0,36 3,6 36 360
      0,39 3,9 39 390
      0,43 4,3 43 430
      0,47 4,7 47 470
      0,51 5,1 51 510
      0,56 5,6 56 560
      0,62 6,2 62 620
      0,68 6,8 68 680
      0,75 7,5 75 750
      0,82 8,2 82 820
      0,91 9,1 91 910

      Satuan Kilo Ω
      ( Ribuan Ω )
      Puluhan Kilo Ω
      ( Puluhan Kilo Ω )
      Ratusan Kilo Ω
      ( Ratusan Ribu Ω )
      Mega Ω
      ( Jutaan Ω )
      1 10 100 1
      1,1 11 110 1,1
      1,2 12 120 1,2
      1,3 13 130 1,3
      1,5 15 150 1,5
      1,6 16 160 1,6
      1,8 18 180 1,8
      2 20 200 2,0
      2,2 22 220 2,2
      2,4 24 240 2,4
      2,7 27 270 2,7
      3 30 300 3,0
      3,3 33 330 3,3
      3,6 36 360 3,6
      3,9 39 390 3,9
      4,3 43 430 4,3
      4,7 47 470 4,7
      5,1 51 510 5,1
      5,6 56 560 5,6
      6,2 62 620 6,2
      6,8 68 680 6,8
      7,5 75 750 7,5
      8,2 82 820 8,2
      0,91 9,1 910 9,1

      EIA STANDAR E96

      E96 adalah standar nilai tahanan untuk Resistor-resistor yang memiliki nilai toleransi 1 %.

      Tabel Resistor Standar E96

      Nol Koma  Ω Satuan Ω Puluhan Ω Ratusan Ω
      0,1  1 10 100
      0,102 1,02 10.2 102
      0,105 1,05 10,5 105
      0,107 1,07 10,7 107
      0,11 1,1 11  110
      0,113 1,13 11,3 113
      0,115 1,15 11,5 115
      0,118 1,18 11,8 118
      0,121 1,21 12,1 121
      0,124 1,24 12,4 124
      0,127 1,27 12,7 127
      0,13 1,3 13  130
      0,133 1,33 13,3 133
      0,137 1,37 13,7 137
      0,14 1,4 14 140
      0,143 1,43 14,3 143
      0,147 1,47 14,7 147
      0,15 1,5 15  150
      0,154 1,54 15,4 154
      0,158 1,58 15,8 158
      0,162 1,62 16,2 162
      0,165 1,65 16,5 165
      0,169 1,69 16,9 169
      0,174 1,74 17,4 174
      0,178 1,78 17,8 178
      0,182 1,82 18,2 182
      0,187 1,87 18,7 187
      0,191 1,91 19,1 191
      0,196 1,96 19,6 196
      0,2 2 20  200
      0,205 2,05 20,5 205
      0,210 2,1 21 210
      0,215 2,15 21,5 215
      0,221 2,21 22,1 221
      0,226 2,26 22,6 226
      0,232 2,32 23,2 232
      0,237 2,37 23,7 237
      0,243 2,43 24,3 243
      0,249 2,49 24,9 249
      0,255 2,55 25,5 255
      0,261 2,61 26,1 261
      0,267 2,67 26,7 267
      0,274 2,74 27,4 274
      0,280 2,8 28 280
      0,287 2,87 28,7 287
      0,294 2,94 29,4 294
      0,301 3,01 30,1 301
      0,309 3,09 30,9 309
      0,316 3,16 31,6 316
      0,324 3,24 32,4 324
      0,332 3,32 33,2 332
      0,34 3,4 34 340
      0,348 3,48 34,8 348
      0,357 3,57 35,7 357
      0,365 3,65 36,5 365
      0,374 3,74 37,4 374
      0,383 3,83 38,3 383
      0,392 3,92 39,2 392
      0,402 4,02 40,2 402
      0,412 4,12 41,2 412
      0,422 4,22 42,2 422
      0,432 4,32 43,2 432
      0,442 4,42 44,2 442
      0,453 4,53 45,3 453
      0,464 4,64 46,4 464
      0,475 4,75 47,5 475
      0,487 4,87 48,7 487
      0,499 4,99 49,9 499
      0,511 5,11 51,1 511
      0,523 5,23 52,3 523
      0,536 5,36 53,6 536
      0,549 5,49 54,9 549
      0,562 5,62 56,2 562
      0,576 5,76 57,6 576
      0,590 5,9 59 590
      0,604 6,04 60,4 604
      0,619 6,19 61,9 619
      0,634 6,34 63,4 634
      0,649 6,49 64,9 649
      0,665 6,65 66,5 665
      0,681 6,81 68,1 681
      0,698 6,98 69,8 698
      0,715 7,15 71,5 715
      0,732 7,32 73,2 732
      0,75 7,5 75 750
      0,768 7,68 76,8 768
      0,787 7,87 78,7 787
      0,806 8,06 80,6 806
      0,825 8,25 82,5 825
      0,845 8,45 84,5 845
      0,866 8,66 86,6 866
      0,887 887 88,7 887
      0,909 9,09 90,9 909
      0,931 9,31 93,1 931
      0,953 9,53 95,3 953
      0,976 9,76 97,6 976

      Satuan Kilo Ω
      ( Ribuan Ω )
      Puluhan Kilo Ω
      ( Puluhan Ribu Ω )
      Ratusan Kilo Ω
      ( Ratusan Ribu Ω )
      Mega Ω
      ( Jutaan Ω )
      1 10. 100 1.00
      1.02 10.2 102 1.02
      1.05 10.5 105 1.05
      1.07 10.7 107 1.07
      1.1 11 110 1.10
      1.13 11.3 113 1.13
      1.15 11.5 115 1.15
      1.18 11.8 118 1.18
      1.21 12.1 121 1.21
      1.24 12.4 124 1.24
      1.27 12.7 127 1.27
      1.3 13 130 1.30
      1.33 13.3 133 1.33
      1.37 13.7 137 1.37
      1.4 14 140 1.40
      1.43 14.3 143 1.43
      1.47 14.7 147 1.47
      1.50 15 150 1.50
      1.54 15.4 154 1.54
      1.58 15.8 158 1.58
      1.62 16.2 162 1.62
      1.65 16.5 165 1.65
      1.69 16.9 169 1.69
      1.74 17.4 174 1.74
      1.78 17.8 178 1.78
      1.82 18.2 182 1.82
      1.87 18.7 187 1.87
      1.91 19.1 191 1.91
      1.96 19.6 196 1.96
      2 20 200 2.00
      2.05 20.5 205 2.05
      2.1 21 210 2.10
      2.15 21.5 215 2.15
      2.21 22.1 221 2.21
      2.26 22.6 226 2.26
      2.32 23.2 232 2.32
      2.37 23.7 237 2.37
      2.43 24.3 243 2.43
      2.49 24.9 249 2.49
      2.55 25.5 255 2.55
      2.61 26.1 261 2.61
      2.67 26.7 267 2.67
      2.74 27.4 274 2.74
      2.80 28 280 2.80
      2.87 28.7 287 2.87
      2.94 29.4 294 2.94
      3.01 30.1 301 3.01
      3.09 30.9 309 3.09
      3.16 31.6 316 3.16
      3.24 32.4 324 3.24
      3.32 33.2 332 3.32
      3.4 34 340 3.40
      3.48 34.8 348 3.48
      3.57 35.7 357 3.57
      3.65 36.5 365 3.65
      3.74 37.4 374 3.74
      3.83 38.3 383 3.83
      3.92 39.2 392 3.92
      4.02 40.2 402 4.02
      4.12 41.2 412 4.12
      4.22 42.2 422 4.22
      4.32 43.2 432 4.32
      4.42 44.2 442 4.42
      4.53 45.3 453 4.53
      4.64 46.4 464 4.64
      4.75 47.5 475 4.75
      4.87 48.7 487 4.87
      4.99 49.9 499 4.99
      5.11 51.1 511 5.11
      5.23 52.3 523 5.23
      5.36 53.6 536 5.36
      5.49 54.9 549 5.49
      5.62 56.2 562 5.62
      5.76 57.6 576 5.76
      5.9 59 590 5.90
      6.04 60.4 604 6.04
      6.19 61.9 619 6.19
      6.34 63.4 634 6.34
      6.49 64.9 649 6.49
      6.65 66.5 665 6.65
      6.81 68.1 681 6.81
      6.98 69.8 698 6.98
      7.15 71.5 715 7.15
      7.32 73.2 732 7.32
      7.5 75 750 7.50
      7.68 76.8 768 7.68
      7.87 78.7 787 7.87
      8.06 80.6 806 8.06
      8.25 82.5 825 8.25
      8.45 84.5 845 8.45
      8.66 86.6 866 8.66
      8.87 88.7 887 8.87
      9.09 90.9 909 9.09
      9.31 93.1 931 9.31
      9.53 95.3 953 9.53
      9.76 97.6 976 9.76


      Umumnya, tidak semua nilai Resistor yang ada pada Tabel standar E24 beredar di pasar indonesia, hanya 50 persen nya saja. Pasar Indonesia mengikuti Standar E12 untuk memasarkan resistor-resistor standar E24. Bahkan, ada beberapa toko elektronik di Indonesia yang menjual resistor standar E96 dengan mengikuti nilai resistor yang ada pada tabel standar E12.

      Demikian pembahasan kita kali ini, semoga bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Setidaknya, bisa menginspirasi anda untuk melahirkan ide yang lebih cemerlang lagi. Maju terus dunia elektronik Indonesia.

      SALAM BLOGGER INDONESIA ... !

      Sunday, February 24, 2013

      Bedah STAVOL MATSUNAGA

      AC Automatic Voltage Regulator atau yang lebih dikenal dengan nama STAVOL, adalah sebuah peranti yang wajib dimiliki untuk mengatasi Tegangan listrik yang kurang stabil.

      Dari sekian banyak Stavol yang beredar di pasaran, Merek Matsunaga lah yang paling banyak digunakan. Di samping  harganya yang cukup ter jangkau, kualitas nya pun tidak meragukan ( Penilaian Penulis ).


      Dengan alasan inilah penulis tertarik untuk mengobrak-abrik isi dari benda yang berwarna Merah Putih ini. Dan inilah hasilnya.

      1. Skema Tarfo Model Servo Motor Control ( SMC ) 9 Volt.






      2. Skema Trafo Model Servo Motor Control ( SMC ) 12Volt.




      3. Skema PCB Servo Motor Control  ( SMC ) 9 Volt.







      4. Skema PCB Servo Motor Control ( SMC ) 12 Volt.








      5. Perkabelan Trafo Model Servo Motor Control 9 Volt.





      6. Perkabelan Trafo Servo Motor Control 12 Volt.


       




      7. Posisi A, K1, dan K2.







      8. Posisi  B   ( 220V OUT ).







      9. Perbandingan ukuran Trafo model lama  ( SMC  9 Volt ) dengan model baru ( SMC 12 Volt ).





      10. Posisi Motor pada Satvol model Lama.





      11. Posisi Motor pada Stavol model Baru.




      Cara menentukan Pin + ( Positif ) dan - ( Negatif ) pada Motor.

      Lepaskan semua kabel yang menempel pada papan SMC. Beri tegangan DC antara 6 volt s/d 9 Volt  pada kabel motor. Perhatikan arah putaran A, pastikan arah nya ke kanan. Kalau arah nya terbalik, tukar polaritas tegangan pada kabel. Jika sudah yakin A berputar ke arah kanan, beri tanda pada kabel yang mendapat polaritas tegangan positif dan kabel yang mendapat tegangan negatif.

      Umumnya Trafo Stavol Matsunaga melakukan penguatan tegangan ( Step Up ) ketika A berputar ke arah kiri dan berputar ke arah  kanan saat menurunkan tegangan ( Step Down ). Tapi pada pada tipe tertentu ada juga Trafo Stavol Matsunaga melakukan Step Up ke arah kanan dan Step Down ke arah kiri. Untuk itu dalam menentukan pin polaritas motor, pastikan A berputar ke arah kiri.

      Cara menentukan Trafo Stavol Step Up  ke arah kiri atau ke arah kanan.

      Pastikan semua kabel yang menempel pada papan SMC, sudah dilepas. Pasang steker Stavol pada colokan listrik, dan hidupkan Stavol. Dengan menggunakan sarung tangan karet, putar secara manual A ke kiri dan ke kanan sambil memperhatikan posisi jarum Volt meter Stavol. Jika jarum Volt meter menunjukkan adanya peningkatan tegangan ketika A diputar ke arah kanan , berarti Step up Trafo ke arah kanan. Sebaliknya kalau saat A diputar ke arah kiri, berarti Step Up Trafo Ke arah kiri.

      Menentukan penempatan saklar K1 dan K2.

      Saklar K1 dan K2 adalah pembatas gerakan A, dengan cara memutuskan sambungan  G atau D  ke W, ketika A menyentuh saklar K1 atau saklar K2.

      Cara praktis menentukan penempatan Saklar K1 dan K2 adalah sebagai berikut :
      1. Pastikan semua kebel terpasang dengan baik pada papan SMC.
      2. Pasang Steker Stavol pada colokan listrik dan hidupkan Stavol.
      3. Saat A bergerak, tekan saklar K1 atau saklar K2,
      4. Jika A berhenti  bergerak ke arah saklar K1 ketika saklar K1 ditekan, berarti pemasangan nya sudah benar. Sebaliknya, jika A berhenti bergerak ke arah saklar K1 ketika saklar K2 yang ditekan. Berarti pemasangan nya terbalik, tukar kabel G dan Kabel D.

      Fungsi Relay.

      Dalam keadaan On, Stavol  selalu melakukan penyesuaian tegangan output secara otomatis se irama dengan perubahan tegangan listrik yang masuk. Jika tegangan yang masuk kurang dari 220 Volt, maka Stavol melakukan penguatan ( Step Up ). Demikian pula sebaliknya, jika tegangan yang masuk lebih dari 220 Volt, maka Stavol melakukan pengurangan ( Step Down ).

      Pada saat Stavol dimatikan dalam kondisi tegangan listrik kurang dari 220 Volt, maka Stavol siap digunakan pada pemakaian berikutnya dalam posisi Step Up. Jika pada saat Stavol di On kan kembali,  tegangan listrik dalam kondisi tinggi ( lebih dari 220 Volt ). Maka pada Outlet Stavol akan keluar tegangan yang sangat tinggi. Meski pun kejadian tersebut hanya sesaat ( karena Stavol akan segera melakukan penyesuaian ) tapi cukup membahayakan peranti elektronik yang tersambung ke Stavol.

      Untuk itulah Stavol Matsunaga diberi rangkaian pelindung tegangan output,  yang terdiri dari sebuah Relay, dan sejumlah komponen yang berfungsi sebagai perata arus ( Adaptor ).




      Pada saat Stavol dalam kondisi On, rangkaian ini bertugas menyumbangkan Motor dengan rangkaian pengendali otomatis. Dan ketika Stavol dimatikan, sambungan tersebut diputuskan dan motor disambung kan ke rangkaian adptor. Karena pada rangkaian adaptor terdapat sebuah Elco yang  terus-menerus diberi muatan dengan tanpa beban sedikit pun, maka saat tersambung ke motor, Elco tersebut tersebut masih memiliki tenaga yang cukup kuat  untuk memutar  A dan memastikan Stavol siap digunakan dalam posisi Step Down,  pada penggunaan berikutnya.


      Kerusakan Stavol dan cara memperbaikinya.

      Trafo Stavol bergetar saat dihidupkan. 

      1. Tegangan listrik yang masuk lebih tinggi Voltase nya dari kemampuan Stavol. Periksa saklar penyesuai Voltase yang ada di belakang Stavol, dan pastikan batas tertinggi Voltase yang direkomendasi kan sudah berada di atas Voltase listrik yang akan digunakan.
      2. Saklar penyesuai Voltase pernah dibuka dan salah dalam pemasangan nya. Cek perkabelannya, dan benahi dengan mengikuti skema trafo yang ada di atas.
      3. Trafo Stavol korslet. Cek kondisi fisik kawat emailnya, bila sudah berubah warna menjadi kehitam-hitaman, kemungkinan besar Trafo tersebut sudah hangus dan tak dapat digunakan lagi.
       
       A  hanya bisa berputar ke satu arah saja.

      1. Motor Rusak, Cek dengan memberinya tegangan DC antara 6V s/d 9V.  Bolak - balik polaritas tegangan yang diberikan, dan pastikan motor dapat berputar ke kanan kiri dengan lancar. Bila motor hanya bisa berputar ke satu arah saja, itu berarti motor sudah rusak ganti dengan yang baru.
      2. Ada Transistor pada rangkaian SMC yang jebol, Uji satu persatu dengan menggunakan Ohm Meter. Ada baiknya sebelum di uji, cabut terlebih dahulu Transistor tersebut  dari papan SMC, agar hasil pengujian nya meyakinkan.
      3. Saklar K1 atau K2 rusak. K1 dan K2 adalah Saklar tipe Push-Button (NC)  yang berfungsi memutuskan sambungan ketika ditekan, dan menghubungkan sambungan saat tidak ditekan. Cek kondisi nya dengan menggunakan Ohm meter X1. 


      Demikian, semoga ada manfaatnya.